Selamat Datang Di Blog Museum Biologi UGM Yogyakarta

Rabu, 15 Mei 2013

Kerangka Gajah Nyi Bodro Di Museum Biologi UGM

Gajah ini mati dalam usia 29 tahun. Selama menjadi bagian dari Kraton Yogyakarta, semasa hidupnya, Nyi Bodro sering diarak saat ada kirab dan hari penting di kraton. Kepiawaiannya antara lain dapat mengalungkan bunga kepada tamu kehormatan.



Kerangka gajah dari sisi samping depan      

Setelah menjalani proses pembersihan, penambalan, pengawetan, dan rekonstruksi, akhirnya kerangka gajah Nyi Bodro menghuni Museum Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sejak September 2012. Selama mengalami proses itu kerangka gajah Nyi Bodro berada di Laboratorium Fakultas Biologi UGM di kompleks Bulaksumur Yogyakarta.
Satu setengah tahun sebelumnya, kerangka gajah Nyi Bodro diangkat dari kuburannya di halaman Gajahan Alun-Alun Selatan Kraton Kasultanan Yogyakarta. Menurut rencana, bulan Juli 2011 kerangka gajah sudah dipamerkan di Museum Biologi UGM. Namun karena berbagai kendala, baru di bulan September 2012, kerangka gajah Nyi Bodro bisa dipamerkan di museum tersebut.

                           Kerangka gajah dari sisi samping belakang

Menurut keterangan Donan Satria Yudha SSi MSc, Kepala Museum Biologi UGM Yogyakarta kepada Tembi, ada beberapa kendala yang mengakibatkan kerangka gajah Nyi Bodro terlambat dipamerkan di Museum Biologi. Kendala itu di antaranya adalah mahasiswa yang menangani konservasi kerangka gajah ini silih berganti menyelesaikan skripsinya. Selain itu, kerangka yang keropos juga harus ditambal. Proses itu makan waktu agak lama. Apalagi saat rekonstruksi harus dilakukan berulangkali.
Kerangka gajah itu awalnya adalah gajah milik Kraton Kasultanan Yogyakarta yang mati pada tahun 2000 karena sakit. Gajah itu berasal dari daerah Binjai, Sumatera Utara. Nama Nyi Bodro adalah pemberian dari Kraton Yogyakarta. Nama aslinya adalah Qoriah. Gajah ini mati dalam usia 29 tahun. Selama menjadi bagian dari Kraton Yogyakarta, semasa hidupnya, Nyi Bodro sering diarak saat ada kirab dan hari penting di kraton. Kepiawaiannya antara lain dapat mengalungkan bunga kepada tamu kehormatan.

Masih menurut keterangan Donan, proses pembersihan dan penambalan, memakan waktu efektif selama 30 hari. Demikian pula saat rekonstruksi membutuhkan waktu 1 bulan. Beberapa bagian kerangka yang masih utuh saat penggalian, antara lain kerangka tulang belakang, kaki depan, dan kaki belakang. Adapun kerangka yang mengalami pelapukan antara lain bagian-bagian persendian.
Penanganan kerangka gajah Nyi Bodro ini dilakukan oleh tim gabungan dosen dan mahasiswa. Penanggungjawab penggalian oleh Donan Satria Yudha (dosen) dibantu 8 mahasiswa Fakultas Biologi. Penanggungjawab pengawetan oleh Zuliyati dan Abdul Rohmat dibantu mahasiswa. Penanggungjawab rekonstruksi ketiga dosen tersebut dibantu 20 mahasiswa.

Kini kerangka gajah Nyi Bodro yang memiliki tinggi 2,07 meter dan panjang 3,15 meter bisa dilihat di Museum Biologi UGM yang terletak di Jalan Sultan Agung 22 Yogyakarta. Koleksi kerangka gajah Nyi Bodro dipajang di ruang depan sisi barat pintu masuk. Kerangka gajah Nyi Bodro berdiri kokoh, dengan disangga besi baja di beberapa sisi. Lalu kerangka tersebut dilindungi kaca yang menutup semua bagian. Di sisi depan ada deskripsi lengkap tentang asal-usul gajah tersebut.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar